Saya Pilih Baby-led Weaning dan Food Combining

Saya menerapkan Baby-led weaning (BLW) kepada anak ke-dua saya sejak umur 6 bulan, dengan harapan-tapi-tidak-berharap-terlalu-tinggi, agar nantinya dia bisa merasakan senangnya dengan proses belajar makan makanan padat dan supaya lebih mandiri nantinya.

Menurut saya cara BLW cukup masuk di akal, menurut logika saya, lho ya. Di tahap awal perkembangan, bayi belajar makan, mau tidak mau harus mengunyah makanannya, karena BLW tidak melalui masa puree sama sekali, dengan begitu bayi akan langsung belajar, bahwa seyogya-nya, makanan itu harus dikunyah. Kalau bubur bayi/puree, si bayi tidak akan merasa perlu mengunyah makanan, karena bubur bentuknya encer, tanpa dikunyah pun gampang untuk ditelan.

Hal ini, mengingatkan saya ketika dulu saya masih SD, kelas 2 SD (sekitar umur 7tahun) saat itu saya baru mau mengunyah makanan! Sampai guru di sekolah pun turun tangan, agar saya mau mengunyah, setelah akhirnya saya mau mengunyah, saya jadi malas makan, makanan hanya di-emut. Dan, ternyata soal malas mengunyah ini “menurun” ke anak pertama saya, padahal saya text book sekali saat itu mengikuti langkah-langkah kepadatan makanan yang dibutuhkan sesuai umur. Walaupun ini “penelitian” dengan hanya saya & anak saya sebagai sample, namun pengalaman masa lalu, membuat saya bertambah yakin untuk beralih ke BLW untuk anak ke-dua saya.

Selain itu bayi 6 bulan sampai dengan 1 tahun gizi utama masih dari ASI atau susu. Maka dari itu ada istilah makanan pendamping ASI, karena makanan padat hanya sebagai pendamping ASI dari bayi 6 bulan sampai dengan anak umur 1 tahun

Selain BLW, saya menerapkan food combining(FC) kepada si kecil. Karena FC ini ibarat keyakinan yang sudah saya jalani dan merasakan manfaatnya, seperti tidak flu selama 1 tahun lebih. Wooow, bagi saya tidak flu selama itu, adalah rekor yang patut dicatat di timeline saya!

Setelah beberapa kali saya tidak menerapkan FC kepada anak saya, hati kecil saya mengingatkan dan merasa ada yang salah jika tidak sesuai dengan “keyakinan” saya, padahal saya sudah merasakan manfaatnya, seakan-akan saya ibu yang egois sekali jika tidak menebarkan manfaat ke anak sendiri.

Akhirnya saya pelan-pelan menerapkan FC ke anak ke-dua saya. Tentu disesuaikan, baik porsi dan jenis makanannya, tidak seperti orang dewasa. Cara gampang FC saya adalah yang mengandung protein hewani hanya boleh berteman dengan protein nabati. Karbohidrat boleh berteman dengan protein nabati ^^.

Manfaat FC juga saya rasakan selama semasa saya hamil, syukur Alhamdulillah, jauh dari penyakit, dan saya turut merasakan manfaatnya selama menyusui, walaupun ASI saya tidak berlimpah ruah, namun nampaknya manfaatnya terlihat oleh si bayi, berat badan pada bulan-bulan awal, hampil selalu 2x lipat naiknya. Alhamdulillah..

Sekian pengalaman saya dengan BLW & food combining

Page ini memang tidak ada kaitannya yah dengan resep ^^. Mohon izin melipir, mau cari resep-resep yang tersebar untuk saya contek dan catet di blog ini. Cheers!!

Update di tahun 2016

BLW

Syukur Alhamdulillah anak saya yang kedua lebih percaya diri terhadap makanan. Mau mencoba rasa baru. Walaupun sempat meniru cara kakaknya menolak makanan, namun sepertinya fase tsb hanya sementara.

Food combining

Wah ini ternyata susah bagi saya untuk konsisten. Terutama setahun belakangan ini. Apalagi kalau ada makanan enak yang tidak sesuai juklak FC, yang terlihat oleh saya dan dapat dijangkau oleh tangan. Sungguh berat memang godaan yang seperti itu. Kembali lah saya ke saya yang dulu hampir tiap bulan fluūüė¶ semoga sakit ini sebagai penggugur dosa. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s